
Pengusaha di Indonesia tampaknya lebih jeli melihat peluang bisnis. Setidaknya terdapat 88 persen pengusaha berminat membuka bisnis baru. Angka itu lebih tingi ketimbang persentase pengusaha secara global yang berdasar temuan riset Global Entrepreneur Indicator 2013 hanya mencapai 84 persen memiliki minat akan merintis bisnis baru. Ini bisa menjadi kabar baik bagi perkembangan perekenomian Indonesia untuk tahun yang akan datang.
Meski begitu, hanya 46 persen pengusaha di Indonesia memiliki prediksi positif terhadap perubahan lingkungan ekonomi nasional. Prediksi Bank Dunia yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 akan melambat hanya di kisaran 5,3 persen; lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi 2013 yang sebesar 5,6 persen, menjadi pendorong tidak tingginya optimisme. Ditambah infrastruktur yang kurang merata dan belum mumpuni di Indonesia.
Global Entrepreneur Indicator, yang melakukan survei pada September 2013, juga mencatat adanya peningkatan pendapatan usaha sebesar 61 persen selama enam bulan belakangan, lebih kecil dari peningkatan pendapatan usaha kolektif global pada kisaran 67 persen. Sedangkan enam bulan ke depan, pendapatan usaha di Indonesia diperkirakan akan meningkat mencapai 81 persen dengan kondisi: akses terhadap modal usaha di kisaran 58 persen, serta beban utang dan profit bersih masing-masing meningkat pada 41 persen dan 71 persen.
Menyusul finalisasi Instruksi Presiden (Inpres) tentang kebijakan pedoman upah minumum provinsi (UMP) terbaru yang mana akan mencantumkan aturan kenaikan upah minimum pada 2014 tidak melebihi 20% terhadap upah minimum tahun berjalan menjadi angin segar bagi dunia usaha. Dapat terlihat dari hasil survei tahun ini yang menunjukkan adanya peningkatan persentasi pengusaha yang bakal menambah jumlah karyawan tetap yang mencapai 51 persen. Tahun sebelumnya hanya ada 49 persen pengusaha Indonesia. Sementara untuk menambah karyawan lepas, hanya 49% pengusaha Indonesia akan melakukannya, berbeda tipis bila dibandingkan dengan pengusaha global yang 52% di antaranya berencana mempekerjakan karyawan paruh waktu.
Thus, hasil survei Global Entrepreneur Indicator2013 secara keseluruhan menunjukkan bahwa perkembangan dunia usaha di Indonesia selama satu semester ke belakang dan ke depan pada bulan survey September 2013 masuk dalam kategori cukup baik. Hal ini tidak lepas dari mental positif pengusaha Indonesia yang meyakini bahwa perekonomian nasional sama kuatnya dengan daya beli domestik.
Pengusaha di Indonesia tampaknya lebih jeli melihat peluang bisnis. Setidaknya terdapat 88 persen pengusaha berminat membuka bisnis baru. Angka itu lebih tingi ketimbang persentase pengusaha secara global yang berdasar temuan riset Global Entrepreneur Indicator 2013 hanya mencapai 84 persen memiliki minat akan merintis bisnis baru. Ini bisa menjadi kabar baik bagi perkembangan perekenomian Indonesia untuk tahun yang akan datang.
Meski begitu, hanya 46 persen pengusaha di Indonesia memiliki prediksi positif terhadap perubahan lingkungan ekonomi nasional. Prediksi Bank Dunia yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 akan melambat hanya di kisaran 5,3 persen; lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi 2013 yang sebesar 5,6 persen, menjadi pendorong tidak tingginya optimisme. Ditambah infrastruktur yang kurang merata dan belum mumpuni di Indonesia.
Global Entrepreneur Indicator, yang melakukan survei pada September 2013, juga mencatat adanya peningkatan pendapatan usaha sebesar 61 persen selama enam bulan belakangan, lebih kecil dari peningkatan pendapatan usaha kolektif global pada kisaran 67 persen. Sedangkan enam bulan ke depan, pendapatan usaha di Indonesia diperkirakan akan meningkat mencapai 81 persen dengan kondisi: akses terhadap modal usaha di kisaran 58 persen, serta beban utang dan profit bersih masing-masing meningkat pada 41 persen dan 71 persen.
Menyusul finalisasi Instruksi Presiden (Inpres) tentang kebijakan pedoman upah minumum provinsi (UMP) terbaru yang mana akan mencantumkan aturan kenaikan upah minimum pada 2014 tidak melebihi 20% terhadap upah minimum tahun berjalan menjadi angin segar bagi dunia usaha. Dapat terlihat dari hasil survei tahun ini yang menunjukkan adanya peningkatan persentasi pengusaha yang bakal menambah jumlah karyawan tetap yang mencapai 51 persen. Tahun sebelumnya hanya ada 49 persen pengusaha Indonesia. Sementara untuk menambah karyawan lepas, hanya 49% pengusaha Indonesia akan melakukannya, berbeda tipis bila dibandingkan dengan pengusaha global yang 52% di antaranya berencana mempekerjakan karyawan paruh waktu.
Thus, hasil survei Global Entrepreneur Indicator2013 secara keseluruhan menunjukkan bahwa perkembangan dunia usaha di Indonesia selama satu semester ke belakang dan ke depan pada bulan survey September 2013 masuk dalam kategori cukup baik. Hal ini tidak lepas dari mental positif pengusaha Indonesia yang meyakini bahwa perekonomian nasional sama kuatnya dengan daya beli domestik.
Posting Komentar